Pendeta

    Pada saat itu, di pelataran yang telah ditinggalkan setelah teman kembali pulang, begitu hangat. Berbincang dengannya. -, dengan penyesalan yang lega karena jujur. Begitu lancar sekali di akhir perbincangan, hening yang menyelimuti menyesakkan dada dariku dan darinya. Diriku yang mengulang kebodohan dan dirinya yang tidak menyukai tabiatku. Hingga ku sadar, aku melihat dirinya bukan lagi terasa marah ataupun kecewa, akan tetapi merasa kasihan. Bukan juga tentang mengasihaninya, tetapi mengasihaniku sendiri.

Postingan Populer