Memoir

Tentang sesal di detik ini.
Aku berkhianat, lupa kepada siapa saja. Aku kurang ajar, sudah jelas kepada orang yang tidak ku suka. Aku menantang, tak lupa menenteng kepal. Aku bajingan.
Impian yang memudar atau mungkin tak bisa memarahi teman yang seenaknya. Hampir juga mati oleh sesuatu yang ku suka. Beranjak dari musim gugur di negara tropis, untuk mimpi yang terkubur di lingkungan yang pesimis. Tentang cinta yang kurang didapatkan dan juga hati yang tak pernah kubukakan. Pernah bicara tentang 'percaya' tapi ku sendiri tidak akan pernah mempercayainya. Bergelayutlah mendung di tengah kota yang mati arah. 

Garis besarnya, aku tak bisa bilang cintaku sudah habis di tiga tahun mudaku. Aku juga tidak bisa bilang masih tersisa di sisa hariku, karena mencampakkan cinta kesekian kali. Aku telanjur salah jalan, tapi kan Tuhan bilang masih bisa belok lurus. Pada tahun ini, hari-hari terasa berat, tetapi semua mahasiswa akhir juga bilang seperti itu, karena benar-benar hampir mati mungkin? atau kilas balik (life flashed before my eyes) yang menuntun semua ingatan sehingga masa lalu membebani masa depan, biasanya juga aku selalu hidup tanpa penyesalan. Tiga tahun akhir masa kecilku yang satu tahunnya hilang entah kemana. Itu cukup menyebalkan. Berarti sisa lima tahun, itu juga menjadi teman yang terlupakan. Aku selalu merasa kita dibodohi dunia, sistem, makanan, cara hidup kecuali beragama, atau pimpinan. Aku selalu merasa, hingga detik ini apakah manusia yang tidak terukir dalam buku adalah manusia yang sia-sia. Aku menulis buku harian, kubakar sepenuhnya. Aku menulis di dunia maya, kuhapus sepenuhnya juga. 

Baiklah, sejujurnya aku hanya ingin berpacaran saja. Karena hampir semua yang bisa disebut normal, tanpa memandang agama, mereka semua melakukannya. Aku hanya takut larangan Nya. Ya, mungkin ada beberapa yang telah kutemui dengan masalah di keluarganya, ada juga yang tidak ingin. Yang sangat alim, aku takjub kepada mereka, mencari cinta dengan sujud. Aku bodoh, harusnya bisa juga. Kurangnya cinta sejujurnya dapat membuat kita mencari masalah, ya karena memang masalah adalah wujud kurangnya cinta. Faktor sifat alamiah manusia yang kompleks atau mungkin alam semesta kita yang berada pada DNA yang aneh. Aku memikirkan fisika kuantum, tapi itu tidak merubah apapun. Perdagangan, makanan, teknologi, ideologi, babi hutan, pohon pinus, sayap ayam, semuanya tidak merubah apapun. Aku pun tak pernah mengetahui apa yang telah merubah hati lembutku menjadi baja dingin. 

Aku takkan pernah tahu dimana kuncinya berada, gelasnya tersimpan dimana, atau barang yang kusembunyikan berada. Aku sungguh pelupa. Mungkin aku juga pengingat, akan kalam dan kelam zaman, akan benderang dan genderang perang, akan mati dan hidupnya tiang. Masa yang suram di 23, umur 21, dan 24 yang berkecamuk. 45 takkan pernah ada harapan, jikalau kita tertidur di 4 dan bangun di 12. 45 takkan ada harapan, jika aku melihat kesia-siaan di matanya. Dia yang begitu picik, bunga yang tak kunjung mekar. Garis waktu selalu menjadi getir, menjadi memori, menjadi kata, menjadi alasan, yang tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku telah menyerah. Aku juga telah mencintaimu, siapapun kamu, masa laluku atau mungkin masa depanku. Kata telah yang berarti sudah selesai, ya, mungkin selesai. Selamat tinggal, 23, tahun patah.

Postingan Populer