Sebelum 22
Ada 2 hal yang terlintas belakangan. Kubagi dalam 2 frasa, maksudku 2 kisah.
1. Untukmu yang berulang tahun
Kurasa kau mengetahui bahwa aku menyukaimu dan aku juga mengetahuinya. Aku membenci hal itu dan aku juga menyukainya, perihal kau yang tidak menyukaiku, dan juga tidak membenciku. Atau barangkali kau benar-benar membenciku. Aku yang selalu mengganggumu, mengagumimu, dan mengagungkanmu. Meski pertemuan adalah kabar, aku takkan pernah mengetahui apakah menemuimu adalah kabar baik atau buruk. Baiknya kau terlihat baik, buruknya mata tidak pernah berbohong.
Menuju pengampunan diriku, pengakuan atas segala dosa yang terkandung dan terjadi. Aku selalu ingin meminta maaf, sekali dan berulang kali. Sialan, belakangan ini kata si monyet gunung terasa sangat benar, "Orang lain pada saat ini ingin terlihat nakal dan buruk, di saat yang sama kita sebaliknya sedang ingin terlihat alim dan baik." Di umur yang semakin habis, dengan bagian yang banyak kritis, aku masihlah kuat. Aku cukup kuat, tidak, pasti kuat untuk selalu menjalani hari ke hari.
Sepi adalah jawaban bagi semua manusia yang merasa menua. Telapak tanganku terlalu kotor. Aku hanya selalu merasa ketika masa itu, aku terlalu terobsesi dan yang ada malah kuacuhkan, bahkan membuang segala hal yang kumiliki demi kebodohan yang amat sangat kusesali setelah mati itu. Atas dasar kata penasaran, hingga mencapai mati adalah tiada penyesalan. Setelahnya adalah penyesalan, atas segala hal apapun yang membuatku menjadi amat sangat busuk. Memburuk dalam kesendirian, no compassion no companion. Bila disebut kehilangan asa, iya juga tidak.
Epilog. Terima kasih telah meminta bantuanku. Aku menyayangimu, dalam diam dan kebodohan 4+ tahun. Aku telah berpaling dari yang lama, aku bersumpah karena mengetahui semua yang telah terjadi dan lebih memilih memendam segala cerita hingga menutup mata. Aku yang selalu tertinggal kereta normal dan memang sengaja memilih kereta kegilaan, bukan atas ketidaksadaran. Terima kasih telah menerimaku, sesedikitnya menganggapku masihlah sebagai mahluk yang bernyawa yang di mana aku sendiri menghardik diriku. Aku berterima kasih kau ada. Aku jauh dari kata hebat, aku jauh dari kata biasa, aku dekat dengan kata rendahan. Aku mencintaimu, maaf. Selamat atas gelar barumu, aku amat sangat bangga. Selamat berulang tahun, semoga semua yang kau harapkan menjadi kenyataan, jangan pernah sekalipun memikirkan diriku sebagai pengharapanmu. Umurmu semoga panjang dan semoga tidak selalu merasa sedih. Kau adalah yang terpilih. Tetaplah menjadi cahaya.
2. Untukmu yang gagal berulang tahun
Maafkan aku yang sudah gagal menjalankan nasihatmu, berulang kali kau mengatakan dan aku berulang kali mengacuhkan. Aku yang menemani masa tuamu, ketika yang lain sudah muak dengan suara tvmu. Meski tahun belakangan seringkali aku juga merasa muak dan lebih memilih memainkan gawaiku, dan itulah maafku yang malah tidak menemani sisa harimu. Kau yang telah menjual segalanya demi ibadah dan do'a. Kau yang penuh dengan pengalaman yang belum sepenuhnya aku pelajari. Itu betul-betul menjadi salah satu penyesalan terbesar dalam hidup. Kau seperti air hujan yang diberikan Tuhan, menjadikan damai bagi semua orang yang menyadarinya. Kau yang seperti tembok besar, bagi musuh Tuhan yang frustasi ingin mencelakakan manusia.
Sebenarnya, setelah menonton film "Us and Them", aku menyadari ketika kau kesulitan dengan remote tvmu. Aku seharusnya mengajari dan memperlakukanmu lebih baik, bukan malah kabur-kaburan demi tiduran atau tugas kuliah. Tahun lalu, aku malah memberikan beban besar baru untukmu. Aku yang bodoh, aku yang bajingan, aku yang nakal, aku sang pendosa, aku yang melenceng di rumah, aku yang segalanya dalam kata kotor. Aku ingin meminta maaf, karena selalu tidak bisa menjadi yang kau harapkan, tidak seperti adik maupun kakak yang amat sangat hebat. Aku yang akan mengembara menuju dunia yang manusia jarang injak, akan selalu meminta maafmu dan kurasa kau pasti selalu terima maafnya. Terima kasih, kau adalah guru terbaikku sekaligus sejujurnya alasanku selalu pulang karena mengkhawatirkanmu sendirian depan layar kaca. Sekarang, bagianku menyelesaikan hidup dengan balutan do'amu yang terus menyelimuti hati rusakku. Selamat tinggal, hiduplah dengan baik di surga bersama nenek. Kalian hebat.